Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa KEK Samota perlu dipandang sebagai pembangunan ekosistem wilayah.
Menurutnya, manfaat pertumbuhan Samota harus menyebar ke kawasan sekitarnya dan tidak berhenti di dalam batas KEK.
Baca Juga:
Ajang MXGP di Sumbawa, Bawa Angin Segar Bagi Pelaku UMKM
“Konsep aglomerasi menjadi penting karena Samota harus terhubung dengan ekonomi daerah melalui tenaga kerja, rantai pasok, UMKM, pangan, transportasi, dan berbagai layanan pendukung,” katanya.
Ia melihat jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke Kabupaten Sumbawa yang mencapai 514.419 orang sepanjang Januari–Oktober 2025 sebagai basis pasar yang menjanjikan.
Kabupaten Dompu yang berada di kawasan Pulau Sumbawa juga mencatat 497.048 kunjungan wisatawan nusantara pada periode yang sama.
Baca Juga:
Ajang MXGP di NTB, Bawa Angin Segar Bagi Pelaku UMKM Sumbawa
Pada saat bersamaan, arus wisatawan mancanegara melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid di Lombok membuka peluang pasar internasional.
Peluang tersebut dapat dimanfaatkan dengan membangun koridor perjalanan wisata Lombok-Sumbawa yang semakin terintegrasi.
“Samota harus mempunyai positioning yang jelas di peta pariwisata dunia, terutama pada wisata bahari, konservasi, pengalaman budaya, dan pariwisata berkelanjutan,” ujar Tohom.