Ia juga melihat dukungan Kementerian Pariwisata dalam fasilitasi perizinan dan pengembangan ekosistem investasi perlu terus diperkuat.
Upaya tersebut harus berjalan bersama peningkatan kualitas destinasi, SDM pariwisata, promosi investasi, dan pembangunan infrastruktur dasar.
Baca Juga:
Ajang MXGP di Sumbawa, Bawa Angin Segar Bagi Pelaku UMKM
“Investor membutuhkan kepastian, wisatawan membutuhkan kenyamanan, sementara masyarakat membutuhkan kesempatan untuk ikut tumbuh,” ujar Tohom.
Menurutnya, ketiga kepentingan tersebut harus dipertemukan dalam desain pembangunan KEK Samota.
Dari sisi konektivitas, keberadaan Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin dan Pelabuhan Pototano menjadi modal penting bagi kawasan.
Baca Juga:
Ajang MXGP di NTB, Bawa Angin Segar Bagi Pelaku UMKM Sumbawa
Infrastruktur tersebut dapat memperkuat hubungan Samota dengan Lombok serta jaringan perjalanan wisata nasional dan internasional.
Tohom menilai konektivitas itu perlu dikembangkan melalui integrasi transportasi, destinasi, akomodasi, dan kalender kegiatan.
Integrasi tersebut dibutuhkan agar wisatawan memiliki alasan lebih kuat untuk datang dan tinggal lebih lama di Sumbawa.