Infrastruktur transportasi, konektivitas logistik, energi, telekomunikasi, dan layanan publik perlu berkembang secara seimbang agar investor memperoleh kepastian dalam menjalankan usahanya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa keberhasilan sebuah kawasan ekonomi khusus sangat ditentukan oleh keterhubungan antarwilayah dan efisiensi sistem logistik.
Baca Juga:
OTT Bupati Pemalang Disebut Bukan Kejutan, Ombudsman Ungkap Peringatan Dini yang Diabaikan
Menurutnya, pembangunan kawasan tidak boleh berdiri sendiri, melainkan harus terintegrasi dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi lain agar menghasilkan efek berganda bagi daerah sekitarnya.
"KEK Samota berpotensi menjadi simpul baru pertumbuhan ekonomi Indonesia bagian timur apabila seluruh pemangku kepentingan bergerak dalam satu arah pembangunan," katanya.
Ia mengatakan kepastian regulasi, kemudahan perizinan, kesiapan lahan, dan dukungan infrastruktur akan menjadi faktor penting dalam menarik investasi jangka panjang.
Baca Juga:
Dana Asing Kabur Rp5,39 Triliun, IHSG Tertekan Jelang Keputusan The Fed
Tohom berharap pengembangan KEK Samota juga mengedepankan prinsip keberlanjutan mengingat kawasan tersebut memiliki kekayaan hayati yang bernilai tinggi.
Menurutnya, pelestarian lingkungan harus berjalan berdampingan dengan pembangunan ekonomi agar daya tarik kawasan tetap terjaga bagi generasi mendatang.
Sebelumnya, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Nusa Tenggara Barat menyatakan usulan KEK Samota berpotensi membuka arus investasi yang lebih besar ke Pulau Sumbawa karena kawasan tersebut memiliki potensi multisektor mulai dari pariwisata, perikanan, kelautan, jasa pariwisata, perhotelan hingga industri.