Langkah efisiensi dari sisi Opex maupun Capex serta pengendalian biaya pokok penyediaan (BPP) listrik dan non-allowable cost melalui penerapan cash war room, dan spend control tower.
Tujuan efisiensi itu agar langkah cost avoidance dan cost reduction termonitor dengan ketat, digitalisasi dan integrasi proses bisnis end to end.
Baca Juga:
Dua Menara dan Sembilan Gardu Induk Terdampak Bencana Sumut, PLN Kerahkan Tim Penuh untuk Pemulihan
"Kami juga lakukan sentralisasi pembayaran berbasis digital, sehingga cash bisa dioptimasi," ujar Darmawan.
Likuiditas PLN terus membaik berkat upaya efisiensi tersebut, sehingga perseroan belum akan melakukan penarikan pinjaman dari global bond dan tetap dapat melakukan pembayaran kewajiban-kewajiban secara tepat waktu, baik pembayaran pinjaman maupun pembayaran kepada pihak ketiga.
Sejauh ini, PLN juga melakukan konsolidasi para pengembang pembangkit listrik swasta atau IPP.
Baca Juga:
Peduli Bencana Aceh, PLN Bantu Sembako dan Genset untuk Warga Terdampak Banjir
Pembangkit-pembangkit IPP yang seharusnya commercial operation date (COD) pada tahun 2021 dan 2022, lantas dilakukan renegosiasi untuk penundaan jadwal COD.
Dengan langkah itu, maka beban TOP tahun 2021 dan 2022 terhindarkan dan ada penghematan pengeluaran yang kapitalisasinya sebesar Rp45 triliun bagi PLN.
Darmawan memastikan pihaknya akan terus memperkuat langkah-langkah efisiensi dan peningkatan efektivitas kinerja PLN.