“Kami berharap program ini dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi sektor perhotelan dan restoran di Bali,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Asosiasi Chief Engineering (ACE) I Putu Ira Kamajaya mengingatkan agar penerapan PV Rooftop tetap memperhatikan aspek estetika bangunan, mengingat keindahan dan budaya Bali menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.
Baca Juga:
Dukungan PLN untuk 1.061 Koperasi Merah Putih, ALPERKLINAS: Keandalan Listrik Jadi Fondasi Ekonomi Desa
Menanggapi hal tersebut, Tohom yang juga Ketua Pengacara Persatuan Marga Purba Se-Jabodetabek, menyebutkan bahwa aspek hukum dan regulasi harus diperhatikan dalam penerapan teknologi energi terbarukan ini.
“Pemerintah daerah dan pemangku kepentingan perlu memastikan bahwa regulasi terkait pemasangan PV Rooftop dan infrastruktur energi hijau lainnya jelas dan tidak memberatkan pelaku usaha. Jika dilakukan dengan baik, inisiatif ini bisa menjadi model bagi daerah lain di Indonesia,” tambahnya.
Selain PV Rooftop, kunjungan ini juga membahas penggunaan kompor induksi dan kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi transisi energi.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Apresiasi Kementerian Lingkungan Hidup Atas Persetujuan AMDAL PT DPM Demi Kesejahteraan Masyarakat Dairi-Pakpak-Karo
Menurut Tohom, pemanfaatan teknologi ramah lingkungan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga berkontribusi pada branding Bali sebagai destinasi wisata berkelanjutan.
"Dengan adanya kolaborasi antara PLN dan PHRI, serta dukungan dari berbagai pihak, Bali makin dekat dengan realisasi pusat pariwisata hijau yang diakui dunia. Kesuksesan program ini diharapkan bisa menginspirasi daerah lain," pungkasnya.
[Redaktur: Frans Dhena]